Sekeping Koin Mengukir Mimpi Mandiri

Ide manajemen serba dadakan, seolah tidak terpisahkan dari pria yang akrab disapa Didit Hape. Bukan sembarangan ide-ide posiitif yang dicetuskan Pendiri Sanggar Alang-alang ini. Bahkan pasti terealisasi dengan baik.

Ya, bagi Didit, konsep atau ide apapun itu mengalir mengikuti waktu saja. Ketika sewaktu-waktu hal tersebut muncul di pikirannya, ia pun meyakini jika ini adalah segala sesuatunya dari Allah. Seperti halnya dengan konsep menciptakan Batik Koin Jumput. Ia secara jujur sejak lama tidak mempunyai angan-angan melahirkan atau tercetus ide menciptakan batik tersebut.

Bahkan lucunya, saat bersantai, mendadak ia kepikiran untuk mulai memberikan sesuatu yang berbeda setelah 15 tahun kiprahnya menjalankan Sanggar Alang-alang. Sekian lama orang tua anak didiknya di Alang-alang tidak dikenai sepeser pun rupiah, tetapi selepas 15 tahun Alang-alang Didit ingin memberikan buah pemikiran yang berbeda. Mereka (orang tua) akan dikenakan biaya, namun tanpa ketetapan nominal.

“Semua itu seikhlas mereka. Dan itupun dalam bentuk uang koin yang dibungkus di dalam sehelai kain, jadi saya tidak perlu untuk mengetahui jumlahnya,” tegas Didit. Bukannya takut mendapatkan cibiran tentang konsep Alang-alang yang kini diberlakukan sistem pembayaran. Bagi Didit dengan pola seperti ini, selepas kepemimpinan Alang-alang di bawah dirinya kelak, Alang-alang dapat berdiri mandiri, bahkan kelak harapannya dapat mengayomi anak-anak yang butuh biaya pendidikan di tempat lain. Sehingga Alang-alang dapat meluas.

Konsep atau pola baru setelah 15 tahun perjalanan Sanggar Alang-alang ini diterapkan Didit Hape dalam Batik Koin Jumput. Di mana kerajinan seni membatik yang diciptakannya, untuk mengajak para orang tua anak didiknya ikut berkontribusi demi kemajuan Alang-alang. Semua demi kemajuan dan perkembangan pendidikan anak-anak negeri.

Bentuk kontribusi itu yaitu seminggu sekali dengan memberikan sehelai kain kepada orang tuanya untuk kemudian dibawa pulang, kemudian di rumah mereka bisa membungkus uang koin di dalam kain tersebut yang sudah mereka ikat. Setelah itu bungkusan kain berisikan uang koin tersebut diserahkan ke Alang-alang yang telah dikelola istri dan anak Didit Hape. Bungkusan kain berisi koin itulah yang diolah Didit menjadi sebuah kain batik koin jumput.

Lalu kemanakah uang-uang koin tersebut berada? Ya, uang-uang koin tersebut dikumpulkan oleh Alang-alang sebagai simpanan yang kelak dapat digunakan sebagai langkah pengembangan pendidikan Alang-alang, dengan menggabungkannya dengan uang hasil penjualan batik koin jumput kreasi Alang-alang. Dan, dana dari hasil keduanya yang akan menjadi penyokong mimpi Didit, yaitu menyebarluaskan pola pendidikan Alang-alang dengan membina anak-anak jalanan menjadi anak-anak negeri yang berhak mendapatkan pendidikan dan penghidupan layak.

About The Author

Reply