Nurbuat Mimpi Luhur Dari Bantur

Perawakannya kalem dan juga ramah pada setiap orang. Langkah kakinya seakan tidak pernah berhenti. Keluar masuk rumah untuk memperhatikan anak-anak yang berada di asrama depan tempat tinggalnya. Sesekali ia menemui tamu yang datang menemuinya. Tutur kata lemah lembut, santun, sirat muka yang menebar kedamaian membuat lawan bicaranya merasa sejuk.

Begitulah kehidupan sederhana sehari-hari, Nurbuat, potret masyarakat kecil asal Dusun Durmo, Desa Bantur, Kecamatan Bantur, Kabupaten Malang. Usianya boleh lebih dari setengah abad, akan tetapi niat tulus diiringi semangat membumbung, seakan tak menyurutkan mimpi-mimpi yang ia pendam sejak puluhan tahun silam.

Mimpi-mimpi kakek satu cucu ini ibarat langit dan bumi. Sangat kecil dapat tercapai. Namun, bukan sosok Nurbuat jika hanya berdiam diri saja. Baginya hidup di dunia harus dapat menebar manfaat atau kebaikan bagi orang lain. “Apapun yang kita ketahui ilmunya, harus kita bagi kepada yang lain. Yaitu sampaikanlah walaupun satu ayat,” kata pria yang hanya lulusan Sekolah Dasar (SD) ini.

Berbekal niat dakwah di jalan Allah, sekitar tahun 1974 ia pun melakukan syiar keliling ke wilayah pesisir Malang Selatan. Seperti di wilayah Sendang Biru, Balekambang, Ngantep, Kondang Merak, dan wilayah pesisir di Malang Selatan lainnya. Kedatangannya tidak langsung berjalan mulus diterima masyarakat setempat, yang kebanyakan beraliran kejawen bahkan telah memeluk agama non muslim. Resiko yang diterimanya tak lantas membuat patah arang. Kesabaran yang terpupuk dari niat mewujudkan mimpi, membuatnya bertahun-tahun berupaya menyebarluaskan ajaran Islam di sana, hingga akhirnya dakwah Nurbuat dapat diterima sampai sekarang.

Mimpi Nurbuat pun tidak berhenti. Pada Redaksi Profilanda.com, matanya perlahan basah akan air mata yang mencoba mengenang kisah hidupnya di tahun 1980-an. Ketika itu, sembari menjadi petani dan buruh di Pasar Bantur, Nurbuat juga menjadi tukang ojek untuk menambah penghasilannya.

Setiap malam hari, Nurbuat selalu menyempatkan diri untuk menularkan ilmu yang dimilikinya. Ia mengajari anak-anak di kampungnya, membaca dan menulis, serta menyanyikan lagu-lagu nasional dan daerah. Belajar mengajar dilakukannya di mushalla berdinding anyaman bambu dekat rumahnya. “Waktu itu hanya enam anak yang mau belajar sama saya,” kenang bapak dua anak ini.

Keinginannya untuk berbagai ilmu kepada mereka karena sebagian besar anak-anak itu tidak bersekolah. Banyak di antara mereka putus sekolah di bangku SD lantaran kekurangan biaya. Kondisi inilah yang mengundang keprihatinannya. Ia tak rela melihat anak-anak itu tumbuh dengan pendidikan yang minim. Ia pun mulai bermimpi, andai saja ada sekolah di lokasi tinggalnya, tentu nasib anak-anak itu bakal lebih baik.

“Kondisi ini membuat saya susah tidur. Terasa tidak tenang, prihatin dengan nasib pendidikan anak-anak di wilayah sini. Berbekal motor CB 1979 yang saya pakai ngojek selama 17 tahun ditambah ongkos tani dan buruh pasar, akhirnya sekolah madrasah harus segera saya wujudkan di atas tanah warisan orang tua yang telah diwakafkan ini,” papar pria berusia 57 tahun ini.
Salah satu mimpi mendirikan madrasah terwujud pada pertengahan 1991, yaitu sebuah Madrasah Ibtidayah di bawah naungan Yayasan Nurul Huda. Perlahan tapi pasti, Nurbuat terus membangkitkan impiannya. Bermodal hasil ojekan itu, tahun 1992, ia mendirikan gedung Yayasan Nurul Huda disusul Madrasah Tsanawiyah (MTS) pada 1993. Memang tidak mewah, karena semuanya berbahan gedek (anyaman bambu). Pelan-pelan, Nurbuat memperbaiki bangunan itu. Ia terus banting tulang demi menyempurnakan mimpinya, mendirikan madrasah yang lebih layak. Memang, semuanya tidak bisa dilakukan dengan sekejap. “Saya kan hanya mengandalkan upah dari mengojek, ditambah dengan ongkos tani dan buruh pasar. Tentu harus sedikit-sedikit. Saya tidak sanggup menyewa jasa tukang,” lanjutnya.

Sekitar empat tahun lamanya, ia mengajar siswa-siswinya di dalam bilik berbahan bambu itu. Hingga akhirnya datanglah sedikit angin segar. Saat itu, Departemen Agama (Depag) Kabupaten Malang tengah melakukan pendataan terhadap madrasah yang terbelakang di desa terpencil, dan ditemukanlah madrasah yang dikelola Nurbuat. Dengan bantuan Depag inilah, lalu berdiri gedung madrasah yang telah dipugar dari bangunan lawas berupa gedek menjadi bangunan bertembok.

Bantuan datang kembali, bak angin segar menerpa laju mimpinya. Yakni pada 1995, Nurbuat mendapatkan bantuan dari Yayasan Dana Sosial Al Falah (YDSF). Alhasil, dari semua bantuan, tiga gedung pun sudah berdiri bagus, tidak terbuat dari gedek lagi. Gedung pertama seluas 36 x 8 meter, gedung kedua seluas 12 x 12 meter, dan gedung ketiga seluas 20 x 7 meter.

Selain itu, sarana penunjang pendidikan dan keagamaan di komplek Yayasan Nurul Huda juga bertambah. Seperti adanya Musholla Nurul Huda, asrama santri, TK RA Nurul Huda, lapangan olah raga, laboratorium komputer, rumah baca atau perpustakaan dengan koleksi ratusan buku umum maupun agama Islam, dan beberapa sarana penting lainnya.

Kini beberapa julur uban sudah tampak menghiasi rambut Nurbuat yang hitam. Mimpinya untuk syiar ajaran agama Islam, berdakwah dari rumah ke rumah bahkan dari desa ke desa, hingga mendirikan Yayasan Nurul Huda dalam hal menebar manfaat ilmu pendidikan telah terlaksana. Namun, sekali lagi bukan sosok Nurbuat, jika harus berhenti bermimpi.

Mimpi yang belum terwujud ada di pekarangan samping rumahnya. Di mana ia memulai usaha dengan menanam kelapa sawit. Dari hasil penjualannya kelak, ia berharap dapat membangun Madrasah Aliyah atau sekolah kejuruan. “Semoga apa yang saya lakukan dengan menanam kelapa sawit ini dapat mewujudkan mimpi saya membangun sekolah lanjutan dari MTS, sehingga tidak perlu repot minta bantuan kesana kemari,” harapnya.

Nurbuat, berangkat dengan tekad besar untuk kemaslahatan sesama. Mimpi-mimpinya begitu luhur, tak membuat niatnya luntur walau saat ini pergolakan jaman datang siap membentur.

About The Author

Reply