Mudik Bagi Syafiq A. Mughni Adalah Bagian dari Esensi Lebaran

Setelah menjalani ibadah sebulan penuh di Bulan Ramadhan, apalagi yang dinantikan setiap orang kalau bukan mudik lebaran. Jauh-jauh hari sebelum masa ini tiba, banyak sebagian warga yang mulai sibuk mencari sesuatu yang baru. Entah itu berupa cinderamata, busana baru yang dikenakan untuk pulang kampung halaman, hingga pencitraan diri jika sudah sukses merantau di luar kota.

Begitulah semuanya yang diutarakan mantan Ketua I PP Muhammadiyah Prof. H. Syafiq A. Mughni, MA, Ph.D. Namun, dari itu semua menurutnya kita (umat muslim) perlu memahami esensi dari datangnya Hari Raya Idul Fitri. “Merayakannya adalah sebuah kebagusan, asalkan tidak berlebih-lebihan,” tukasnya.

Karenanya pria kelahiran Paciran, Lamongan, 15 Juni 1954 ini menilai tradisi mudik adalah sekedar bagian dari esensi lebaran. Terpenting saat mudik ke kampung halaman, atau di mana saja kita merayakannya adalah keikhlasan kita dalam menjalin silaturrahmi dengan sesama. Saling memaafkan, kembali ingat dengan sanak keluarga, teman lama, dan sebagainya. “Upaya ini sangat perlu setelah sebulan penuh kita di-gembleng menjalin hubungan dengan Sang Khalik di Bulan Ramadhan,” imbuhnya.

Sehingga lanjut Syafiq Mughni, dari proses ini diperoleh penyadaran terhadap eksistensi keimanan manusia. Yakni meyakini hidup kita harus bagaimana semestinya, sekaligus dapat memahami posisi hamba yang lemah di hadapan Tuhan. Kalau sudah begini menurutnya, hakikat manusia sebagai insan sosial dapat terjalin secara harmonis. Baik agar dapat saling tenggang rasa, saling menghormati, menghargai kebebasan hak, dan masih banyak lagi.

About The Author

Reply