Meracik Bisnis Warkop ala Wahyu Triatmojo

Kegemaran Wahyu Triatmojo mencicipi beragam cita rasa kopi ternyata membawanya masuk lebih jauh ke dunia usaha. Berbekal pengalaman dan referensi itulah, dia akhirnya memutuskan membuka warung kopi (warkop) Tekape yang mulai beroperasi pada 31 Desember 2015.

Dijumpai di sela-sela kesibukannya, Wahyu bersedia berbagi cerita perihal bisnis yang digelutinya. Hingga kini, ayah satu anak itu masih aktif tercatat sebagai karyawan Bagian Humas Pemkot Surabaya. Suatu saat, Wahyu bertugas meliput kegiatan Penjabat Wali Kota Surabaya Nurwiyatno di Jakarta. Selama perjalanan dalam pesawat, dia menyaksikan film Filosofi Kopi. Film yang dibintangi Chicco Jerikho, Rio Dewanto serta Julie Estelle itu tampaknya mampu menggugah semangat suami Cindy Tyas Paramita untuk memulai usaha berbasis kopi.

Setelah mendapat rumah kontrakan di daerah Tambak Rejo, Waru, Sidoarjo (perbatasan dengan Surabaya), Wahyu ‘menyulapnya’ menjadi warkop. Rumah tersebut berukuran 7×20 meter. Bagian depan rumah seluas 7×10 meter difungsikan sebagai warkop. Sedangkan bagian belakang menjadi tempat tinggal Wahyu bersama keluarganya. Dengan menempati lahan di rumah sendiri, setidaknya Wahyu tak perlu khawatir bakal digusur Satpol PP.

Penghobi renang dan hiking ini memberi nama warkopnya: Tekape. Dikatakan Wahyu, nama tersebut tidak mengandung filosofi apa pun. “Saya hanya mengambil istilah yang sudah sering diucapkan orang. Biasanya kalau orang janjian itu bilangnya saya sudah di Tekape. Makanya, saya pakai nama itu,” terangnya.

Selanjutnya, alumnus Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Surabaya (Stikosa) AWS ini ‘berburu’ kopi yang paling pas untuk warungnya. Dalam menentukan jenis kopi, Wahyu tak ingin sembarangan. Sejak awal, dia bertekad ingin menyajikan kopi yang enak dan berkualitas, namun tetap berstandar warkop. Akhirnya, pilihan Wahyu jatuh pada jenis kopi robusta. Untuk jenis kopi ini, Wahyu punya dua pilihan, yakni berupa biji kopi dan kopi racikan. Biji kopi robusta didatangkan dari wilayah Malang, tepatnya Dampit. Sementara, untuk kopi racikan berasal dari Gresik. Tentunya, Tekape  juga menyediakan kopi dalam bentuk sachet. Tak ketinggalan, nasi bungkus, aneka gorengan, ketan berbagai rasa serta mie instan selalu setia ‘menyapa’ pengunjung Tekape.

Dalam hal penyajian kopi, Tekape menawarkan dua pilihan. Pertama, kopi dan gula diletakkan dalam gelas kemudian diseduh dengan air panas. Opsi lainnya, kopi, gula dan air ditempatkan dalam satu wadah besar kemudian direbus hingga mendidih. Setelah mendidih, lantas disaring dan disajikan. Kopi ini dikenal dengan istilah kopi kothok.

Perjalanan karir Wahyu di dunia per-warkop-an ternyata penuh liku. Pada 2004, pria kelahiran Surabaya 24 Februari 1984 ini sejatinya pernah membuka sebuah warkop bersama teman kuliahnya. Namun, karena sepi plus tidak dikelola secara serius, akhirnya bisnis itu terpaksa ‘gulung tikar’. Padahal, lokasi warkop yang lama tak beda jauh dari warkop Tekape yang kini dikelola Wahyu, alias masih satu area.

Menurut dia, dinamika masyarakat terhadap warkop sudah jauh berbeda. “Kalau waktu dulu, orang ngopi itu karena kebutuhan. Sekarang, ngopi atau nongkrong sudah menjadi gaya hidup,” ujar penggemar klub sepakbola Juventus ini. Oleh karenanya, meski membuka warkop di lokasi yang hampir sama, namun respon masyarakat sudah berbeda. Warkop kini menjadi lebih ramai karena orang tidak hanya memanfaatkan warkop untuk menyeruput kopi, melainkan juga sebagai tempat interaksi sosial.

Berdasar pengamatan Wahyu, Tekape punya segmentasi pelanggan tersendiri. Yakni, mayoritas berasal dari kalangan buruh. Hal ini dikarenakan lokasi Tekape memang berdekatan dengan pabrik-pabrik dalam kawasan industri. Wahyu menceritakan, pernah suatu ketika dia didatangi pengurus organisasi buruh yang membutuhkan tempat rapat. Karena dirasa cukup luas dan suasana cukup nyaman, maka Tekape dipilih sebagai venue. Kebiasaan dipakai sebagai tempat rapat para buruh pun berlanjut hingga sekarang. Hal itu tentunya mendatangkan keberkahan tersendiri bagi Tekape.

Menurut Wahyu, membuka warkop harus memperhatikan tiga hal penting. Yaitu, lokasi strategis, kualitas kopi dan makanan serta fasilitas penunjang. Terkait lokasi, pria yang akrab disapa Mamiek ini sudah yakin dengan pangsa pasar buruhnya. Pun demikian halnya dengan kualitas kopi robusta yang menjadi andalannya. Sedangkan untuk fasilitas penunjang, Mamiek sudah melengkapi warkopnya dengan Wi-fi. Dengan begitu, pengunjung Tekape bisa menikmati kopi sembari ‘berselancar’ di dunia maya.

Tak hanya itu, Mamiek juga punya strategi lain demi menggaet pelanggan. Tekape rutin memutar film-film box office yang terjadwal rutin sehari tiga kali. Adapun jadwal pemutaran film adalah pukul 19.00, pukul 22.00, dan satu kali pemutaran pada siang hari. “Kalau tipikal pelanggan di sini (Tekape) sukanya film action mas. Mereka suka yang banyak adegan laganya. Sesekali kami putar film komedi juga agar tidak jenuh,” kata Mamiek dengan nada bersahaja. Salah satu tantangan membuka bisnis warkop, menurut Mamiek adalah mencari orang yang dapat dipercaya. Saat ini, Mamiek mempekerjakan dua orang yang terbagi dalam dua shift. Sesekali, Mamiek menyempatkan diri melayani pelanggan di warkopnya.

Bisnis warkop sudah lama ada di benak Mamiek. Kendati sempat mengecap kegagalan, namun untuk kali ini dia optimistis mampu survive bahkan mengembangkan usahanya. Potensi bisnis ini pun dipandang cukup menjanjikan. Dalam sebulan, Mamiek mampu mendulang keuntungan antara Rp 3 juta sampai Rp 4,5 juta. Angka itu sudah terpotong gaji dua pegawai dan belanja kebutuhan warkop. “Ya, syukurlah mas. Bisa untuk tambahan penghasilan bagi anak dan istri,” ungkapnya. Ke depan, Mamiek bercita-cita lebih fokus pada penambahan varian kopi. Saat ini, Tekape memang masih menawarkan dua jenis kopi robusta. Harapannya, lebih banyak orang yang nongkrong di Tekape karena ingin merasakan berbagai pilihan kopi berkualitas, tapi tetap berstandard warkop.(

Oleh: Jefri-Go

http://www.kompasiana.com/jefry-go/meracik-bisnis-warkop-ala-wahyu-triatmojo_56e63306949373b309004864

About The Author

Reply