Belajar dari Onno W. Purbo, Mengisi Hari dengan Tulisan

Tumbuh dalam lingkungan keluarga yang mencintai ilmu dan memuliakan pendidikan. Begitulah gambaran sekilas untuk Onno W. Purbo.

 

Pria kelahiran Bandung 17 Agustus 1962 ini merupakan seorang tokoh yang kemudian lebih dikenal sebagai pakar di bidang informasi dan teknologi. Ayahnya,Hasan Poerbo, adalah seorang profesor di ITB bidang lingkungan hidup yang banyak memihak pada rakyat kecil.

 

Onno masuk ITB pada jurusan Teknik Elektro angkatan 1981. Enam tahun kemudian Onno lulus dengan predikat wisudawan terbaik. Setelah itu Onno melanjutkan studi ke Kanada dengan beasiswa dari PAU-ME. RT/RW-Net adalah salah satu dari sekian banyak gagasan yang ia lontarkan hingga dapat mengukir sejarah Internet Indonesia.

 

Kariernya di bidang akademik atau pengajaran mungkin dapat dibilang berakhir. Tapi, komitmennya untuk membuat masyarakat pintar, setidaknya melihat jutaan anak bangsa masuk ke internet belumlah padam. Untuk itu, ia memilih jalan lain, di luar jalur formal seperti memberikan kuliah di kampus-kampus. Dan, jalan lain itu sendiri adalah menulis.

 

Ia aktif menulis dalam bidang teknologi informasi di berbagai media, seminar, konferensi nasional maupun internasional terutama untuk memberdayakan masyarakat Indonesia menuju masyarakat berbasis pengetahuan. Karya tulis Purbo selalu diiringi tiga tema besar, yakni pendidikan, penguatan arus bawah, serta pemberantasan monopoli sumber daya. Lebih dari 161 kota besar di 33 negara dikunjungi dalam perjalanan hidupnya.

 

Anda jelas sudah lama bersinggungan dengan dunia IT, bagaimana awal mula berkecimpung di dunia IT?

Sebetulnya awal mula saya berkecimpung di dunia IT cuma kebetulan saja. Betul-betul modal dengkul. Saya tidak pernah belajar formal tentang teknologi informasi, tidak pernah belajar formal tentang internet. Saya jelas lebih bodoh daripada adik-adik mahasiswa di ITB. Buktinya saya sering bertanya ke mereka. Hingga akhirnya, diberi kesempatan oleh Tuhan lewat bapak saya akhirnya dapat bergelut dengan dunia IT.

 

Lebih jelasnya?

Pertama pakai komputer kalau tidak salah Radio Shack sekitar tahun 1978-an waktu itu masih SMA kelas 1. Komputer tersebut punya Alm. Prof. Iskandar Alisyahbana. Saya sering ke rumahnya main dengan putranya Bachti Alisyahbana untuk pakai komputer tersebut untuk belajar pemrogramman menggunakan BASIC. Kemudian tahun 1979-an saya bersama Wawan Salum, Bambang Soemarwoto kita dapat kerjaan untuk menganalisa data hasil survey sebuah organisasi kalau gak salah organisasi kewanitaan, waktu itu kita pakai komputer Osborne pakai system operasi CP/M, hmmm barangkali itu pertama kali saya dapet duit dari komputer. Baru sekitar tahun 1983 – 1984-an bersama teman-teman Elektro 81 di ITB, kami mendirikan Divisi Komputer Himpunan Mahasiswa Elektro ITB sampai sekarang DIVKOM. Salah satu proyek kami waktu itu membantu PT. Pos Indonesia yang pameran di Pameran Produksi Indonesia di PRJ. Waktu itu kami membuat animasi tukang pos pakai 4 komputer Apple II.

 

Selain sebagai pakar IT, Anda sehari-hari beraktifitas sebagai apa?

Pengangguran saja. Sambil mengisi waktu untuk aktif menulis dalam bidang teknologi informasi di berbagai media, seminar, konferensi nasional maupun internasional terutama untuk memberdayakan masyarakat Indonesia menuju masyarakat berbasis pengetahuan. Lebih dari 161 kota besar di 33 negara di kunjungi dalam perjalanan hidupnya. Saya percaya filosofy copyleft, banyak tulisannya dipublikasi secara gratis di internet.

 

Banyak ide-ide dari para pakar IT atau bahkan dari Menkominfo kita, yang kerap menimbulkan pro kontra. Komentar atau harapan Anda?

Saya menghimbau agar pemerintah berkenan meluangkan waktu terjun ke masyarakat. Hingga akhirnya tahu kalau masyarakat kita itu pintar.

 

Internet di keluarga Anda, bagaimana? Apakah dalam penggunaannya di keluarga, ada batasan?

Penggunaan internet di keluarga saya 24 jam. Kami semua butuh. Untuk penggunaannya tidak ada batasan, asal saling percaya dan menjaga komunikasi antar pihak. Saya rasa pula semua akan berjalan lancar, kalau ada komunikasi yang baik antara anak dengan orang tua dan pihak sekolah

About The Author

Reply