Bahtera Ilmu dari Oei Him Hwie

Dalam rangka mempersiapkan generasi Indonesia mendatang menghadapi era globalisasi yang diperlukan pengenalan, pemahaman, pelestarian, dan pengembangan budaya untuk memandu bangsa kita ke masa depan yang lebih baik.

Itulah niatan tulus Oei Him Hwie bersama beberapa kawannya untuk menghimpun buku-buku koleksi pribadinya sendiri sebagai referensi bacaan generasi bangsa. Oleh karenanya bapak dua anak ini tergerak untuk membuka perpustakaan pribadi untuk umum.

Juga bercermin dari cerita sejarah kerajaan Sriwijaya di Sumatera 670 Masehi silam. Pusat kerajaan di Kota Palembang itu merupakan bandar besar serta menjadi pusat agama Budha. Banyak orang di masa itu yang mendalami agama Budha dan ilmu-ilmu lain untuk belajar di Palembang dulu sebelum berlanjut ke India. Ini disebabkan sarana perpustakaan di ibukota kerajaan Sriwijaya begitu lengkap.

Begitu pula dengan Tiongkok di masa kejayaan Dinasti Tang, dengan rajanya Tang Thay Tjong yang sangat memperhatikan perkembangan perpustakaan dan tulisan perjalanan yang dilakukan oleh rakyatnya. Pada waktu itu sistem dokumentasi dan penghimpunan data telah diterapkan dengan baik, sehingga sampai saat ini buku-buku kesusasteraan dan ilmu ketabiban dari negeri tersebut cukup terkenal.

Berangkat dari hal itulah lahirlah Perpustakaan Medayu Agung sesuai akta notaris pada 1 Desember 2001. Mengenai penamaan Medayu Agung sendiri bukanlah semata-mata karena lokasinya di Medokan Ayu, tetapi juga merupakan nama yang mempunyai arti dan falsafah bahasa yang tinggi.

Medayu berasal dari dua kata bahasa Kawi, menurut kamus Bausastra Jawa karangan S. Prawiro Atmojo, kata ‘Meda’ berarti budi atau kebajikan. Sedangkan ‘Yu’ berasal dari kata ‘Mayu’ atau ‘Memayu’ artinya berbuat baik. Jadi medayu bila digabungkan berarti berbuat kebaikan dengan dasar budi dan kebajikan. Dalam buku lain, kamus jawa kuno yang disusun oleh L. Mardiwarsito, ‘Medha’ berarti kebijaksanaan, kearifan, kecerdasan dan akal pikiran. Jadi kata Medayu Agung memiliki makna berbuat kebaikan berdasarkan budi luhur, kebajikan dan kebijaksanaan untuk tujuan besar.

Di perpusatakaan itu terdapat koleksi literatur buku-buku bidang sejarah, sosial politik, filsafat, hukum, kebudayaan, biografi, agama, jurnalistik, juga berbagai koran dan majalah. Kebanyakan koleksi di sana terbitan tua mulai tahun 1900-an. Keistemewaan perpustakaan ini juga sebab koleksi lengkap mengenai sinologi (ilmu pengetahuan tentang bahasa dan kebudayaan Tionghoa), dengan keseluruhan jumlah koleksi hingga sekitar 5.000 buku.

Berkat ketekunannya Oei yang pernah menjadi wartawan koran Terompet Masyarakat itu pernah mendapat pengahargaan dari Pemerintahan Kota Surabaya. Penghargaan kategori ‘Board Preference’ diraihnya pada 27 November 2004, dengan kisi menggerakkan potensi masyarakat untuk pelestarian dan pencerahan budaya atas dedikasi dan integritas tinggi bagi kepentingan warga Kota Surabaya.

Meraih penghargaan dari Pemkot bukan berarti membuat berharap bantuan bagi Oei Him Hwie. “Hingga saat ini kita tidak mendapatkan bantuan berupa apapun, dan saya sendiri tidak mengharapkannya apalagi mengajukan permohonan bantuan,” tegas pengagum sosok mantan Presiden RI Soekarno ini.

Bahkan ia juga mengatakan pernah ada kolektor buku asal Australia yang ingin membeli semua koleksi bukunya dengan iming-iming uang senilai Rp. 1 Milyar, namun dirinya menolak. “Lebih baik saya tetap mempertahankan buku-buku itu untuk kepintaran anak bangsa sendiri daripada untuk untuk anak bangsa lain,” jelas lulusan sekolah jurnalistik Pro Patria Yogyakarta ini.

About The Author

Reply