Bahasa Sunyi dari Pulau Bali

Hidup dengan keterbatasan, tidak membuat Arie Wahyu Cahyadi lantas pasrah dengan keadaan. Sebagai seorang tuna rungu, upaya pekerjaan yang dilakukannya seorang diri patut diacungi jempol.

Pria kelahiran Flores, 14 Mei 1986, pada tahun 2009 memutuskan untuk mengadu nasib ke Pulau Dewata Bali. “Karena kondisi saya seperti ini tidak mudah memang dalam mencari kerja. Hingga tercetus tekad untuk jalani usaha sendiri saja demi menafkahi keluarga,” ujarnya menjawab pertanyaan wawancara melalui sebuah tulisan.

Saat itu pula, Wahyu menjumpai ada beberapa wisatawan mancanegara penderita tuna rungu yang datang ke Bali. Mereka biasanya datang saat musim panas di Bali atau musim liburan (high season).

Karena wisatawan tuna rungu membutuhkan guide atau pemandu khusus, untuk berkomunikasi dengan bahasa isyarat tanpa mengeluarkan suara (tuli dan bisu), seperti pemandu wisata yang lainnya. Membuat wisatawan tuna rungu susah berkomunikasi dengan sopir atau guide normal, atau yang bisa mendengar dan berbicara).

“Maka dari itu saya punya ide atau gagasan untuk terjun langsung sebagai guide sekaligus sopir bagi para wisatawan tuna rungu saat datang ke Bali dengan membuat usaha pribadi yaitu Bali Deaf Guide,” lanjutnya.

Dalam berkomunikasi dengan wisatawan tuna rungu, ia pun memakai bahasa isyarat international dan bahasa isyarat Auslan (Australia).

Yang mana mereka kebanyakan wisatawan asing datang dari, Australia, Amerika, Afrika, Jerman, Swiss, Ireland, Malaysia, Singapore, Franch, Hongkong, Japan, serta paling banyak adalah dari Australia.

Saat bekerja Wahyu, dalam perjalanan menuju obyek wisata ia juga memberikan materi atau informasi tertulis beserta gambar pendukung terkait tempat wisata yang akan dituju. Sesampainya di lokasi wisata dirinya tetap menjelaskan ke wisatawan dengan bahasa isyarat. Tantangan yang harus diakuinya adalah terus belajar bahasa isyarat tiap-tiap negara, karena berbeda-beda dan punya ciri sendiri.

“Contohnya Australia menggunakan bahasa isyarat dengan dua tangan sedangkan bahasa international menggunakan bahasa tubuh, tetapi dengan semua ini tidak membuat saya mundur saya ingin berusaha belajar dan belajar untuk mempelajari lagi dengan bahasa isyarat,” jelasnya.

Dari apa yang dilakukannya selama ini, mewakili penderita tuna rungu di Indonesia, Wahyu Cahyadi berharap mendalam bagi pemerintah, supaya lebih mempedulikan penderita tuna rungu di bidang lapangan pekerjaan. “Sekaligus pemerintah berkenan menjalin komunikasi yang baik dengan warga seperti kami ini,” pungkasnya.

*rdi*

About The Author

Reply